Masalah lingkungan hidup, terutama limbah, telah menjadi isu krusial yang memerlukan penanganan sistematis sejak dini. SMPN 15 mengambil peran aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan melalui konsep circular school. Konsep ini merupakan adaptasi dari sistem ekonomi sirkular yang bertujuan untuk meminimalkan limbah dan memaksimalkan penggunaan kembali sumber daya. Fokus utama sekolah ini terletak pada bagaimana sampah yang dihasilkan di lingkungan sekolah, terutama limbah organik, tidak berakhir begitu saja di tempat pembuangan akhir (TPA), melainkan diolah kembali menjadi produk yang bernilai guna.
Penerapan konsep sekolah sirkular ini bermula dari perubahan pola pikir seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga staf kantin. Dalam strategi pengelolaan limbah, langkah pertama yang dilakukan adalah pemilahan sampah yang sangat ketat di sumbernya. Sampah organik dari sisa makanan kantin dan guguran daun di halaman sekolah dikumpulkan secara terpisah. Proses ini bukan sekadar tugas kebersihan, melainkan bagian dari kurikulum pendidikan lingkungan yang wajib diikuti oleh seluruh siswa. Mereka diajarkan untuk memahami siklus hidup sebuah material dan mengapa membuang sampah secara sembarangan adalah bentuk pemborosan sumber daya.
Di pusat pengolahan limbah sekolah, sampah organik tersebut mengalami transformasi melalui berbagai teknik, seperti pengomposan aerobik dan penggunaan tong maggot (larva lalat Black Soldier Fly). Hasil dari proses ini adalah pupuk organik cair dan padat yang kualitasnya sangat baik untuk menyuburkan taman-taman sekolah. Dengan model circular school ini, sekolah berhasil menciptakan sistem mandiri di mana kebutuhan pupuk untuk penghijauan tidak lagi harus dibeli dari luar, melainkan diproduksi sendiri dari sampah yang mereka hasilkan. Hal ini memberikan pelajaran berharga bagi siswa tentang efisiensi ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan ini juga melibatkan aspek kewirausahaan hijau. Produk pupuk yang dihasilkan sering kali dikemas secara apik dan dipasarkan dalam acara-acara sekolah atau bazar komunitas sekitar. Siswa belajar bagaimana mengelola sebuah proyek lingkungan hingga menjadi unit bisnis kecil yang menghasilkan. Melalui SMPN 15, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa peduli lingkungan bisa berjalan selaras dengan manfaat ekonomi. Strategi pengelolaan limbah yang efektif terbukti mampu mengurangi biaya operasional sekolah sekaligus memberikan pengalaman belajar yang sangat aplikatif bagi para siswa di dunia nyata.
